Loading

Underpass YIA

Tentang Karya

Sebagai sebuah penghormatan kepada area yang menjadi wilayah Yogyakarta International Airport (YIA), khususnya Desa Sindutan.

Sindu, dalam terminologi umum mempunyai arti “mengawal umat manusia”. Sementara, dalam Bahasa Sangsekerta, terdapat istilah ‘sindu upaka’, yang berarti air, atau sungai. Posisi Sindutan sendiri memang terdapat jalan utama menuju ke daerah yang lain, seperti mengawal arah untuk ke tujuan daerah lain, di mana terdapat juga aliran sungai Bogowonto.

Sindutan seperti menjadi penghubung antar wilayah. Hal ini disimbolkan dengan gunungan. Selain itu, gunungan juga sebagai simbol dari sebuah situs yang ada di desa Sindutan, yakni situs Gunung Lanang.

Relief yang dibuat dari kayu daur ulang dan beberapa sisa kapal dan bangunan yang ada di desa Sindutan sebelumnya.

GERAK GUMREGAH

GERAK GUMREGAH menyimbolkan karakter masyarakat Jogja yang terus bergerak secara dinamis dan optimis, penuh semangat untuk terus bangkit dan berkembang penuh semangat…gumregah, kemudian gerak tersebut direpresentasikan menjadi produk budaya yaitu berupa tarian rakyat.

Underpass Jalan Deandels, terletak di bawah Terminal Bandara Internasional Yogyakarta, Kulon Progo, artinya underpass tersebut memiliki dua narasi tarian rakyat yang mewakili wilayah, yaitu Jathilan dari Jogjakarta dan Tari Angguk Putri di Kulon Progo. Secara arsitektural dan narasi schenography Terminal, underpass Jalan Deandels berada di bawah ‘area Tamansari’, sehingga penempatan ornamen Kalamakara dan sulur yang mengadopsi hiasan ornamental di gerbang underpass bawah air Tamansari dapat menjaga narasi keseluruhan terminal. Sebagai penghubung antara gerbang Barat dan Timur, terdapat narasi penghubung yang diaplikasikan sebagai motif barrier jalan berupa stilir Gebleg Renteng khas Kulon Progo yang didesain sedemikian rupa. Dengan kajian singkat tersebut di atas, makan narasi yang terbangun dalam underpass tersebut utuh dalam sebuah konsep desain terminal di atasnya.

TARIAN RAKYAT

JATHILAN, JOGJAKARTA

Sebagai tarian paling tua di Jawa, Jathilan (Jaran Kepang) mempertontonkan kegagahan seorang prajurit di medan perang dengan menunggang kuda sambil menghunus sebuah pedang. Penari menggunakan kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu atau kulit binatang yang disebut dengan Kuda Kepang, diiringi alat musik gendang, bonang, saron, kempul, slompret dan ketipung.

Kostum lainnya berupa seragam celana sebatas lutut, kain batik bawahan, kemeja atau kaus lengan panjang, setagen, ikat pinggang bergesper, selempang bahu (srempeng), selendang pinggang (sampur) dan kain ikat kepala (udheng) dan hiasan telinga (sumping). Para penari berdandan mencolok dan mengenakan kacamata hitam.

Tarian ini dilakuan oleh penari yang menggunakan seragam prajurit dan yang lainnya menggunakan topeng dengan tokoh-tokoh yang beragam, ada Gondoruwo (setan) atau Barongan (singa). Mereka mengganggu para prajurit yang berangkat ke medan perang. Kesenian tari jathilan dahulu kala sering dipentaskan pada dusun-dusun kecil. Pementasan ini memiliki dua tujuan, yang pertama yaitu sebagai sarana menghibur rakyat sekitar, dan yang kedua juga dimanfaatkan sebagai media guna membangkitkan semangat rakyat dalam melawan penjajah.

ANGGUK, KULON PROGO

Tari Angguk lahir sebagai respon pengolahan sosial, budaya dan sejarah yang tumbuh berkembang di masyarakat sehingga terciptalah tarian sebagai salah satu identitas Kulon Progo dan merupakan tarian pergaulan remaja yang digelar sehabis musim panen sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Merujuk dari beberapa sumber, Tari Angguk lahir kisaran tahun 1950-an dimana nuansa penjajahan masih sangat terasa. Istilah ‘Angguk’ diambil dari gerakan yang paling mendominasi pada tarian yakni mengangguk-anggukan kepala. Gerakan tarian hingga Kostum yang dikenakannya pun tidaklah terlepas dari unsur-unsur yang ikut membentuk sejarahnya.

Tari Angguk merupakan perpaduan cantik tiga unsur budaya;

  • Unsur Islam terlihat disaat Shalawat Nabi selalu dijadikan pembuka pertunjukan. Budaya Islam juga terwakili oleh beberapa alat musik pengiring yang digunakan.
  • Budaya Barat (Belanda) terlihat pada gerakan dan kostum para penari. Hanya saja tidak selalu mirip, karena para penari Angguk memakai celana pendek dan bukan lazimnya seragam militer yang biasa memakai celana panjang.
  • Budaya Timur bisa terlihat pada gerakan tari yang cenderung menitikberatkan pada keluwesan serta alur cerita yang dibawakan adalah diambil dari Serat Ambiyo tentang Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono.

KONSEP ORNAMEN PINTU MASUK DAN KELUAR

TAMANSARI – KALAMAKARA

Kalamakara adalah salah satu bentuk wajah raksasa dan diapit oleh relief wanita cantik, desain ornamentis yang selalu menghiasi bagian atas pintu candi-candi di Jawa. Bentuk kalamakara ini merupakan salah satu wujud ornamen figuratif yang memiliki fungsi spirutual, yaitu sebagai ‘tolak balak’ (pengusir roh-roh Jahat). Biasa kita menyebutkan penolak sial atau penolak ancaman batin yang tidak tampak secara lahiriah. Makara hiasan pintu masuk candi biasanya berpasangan dengan kala. Berdasarkan konsepnya, makara adalah makhluk dari dunia bawah yang berfungsi sebagai penolak bala terhadap energi-energi negatif yang akan memasuki candi.

KONSEP ORNAMEN PEMBATAS JALAN

GEBLEK RENTENG – IKON KULON PROGO

Motif yang telah menjadi ikon Kulon Progo itu terdiri dari gambar geblek sebagai motif utama dan sekian banyak simbol yang menunjukkkan kekayaan alam dan Kondisi Kabupaten Kulon Progo. Geblek dijadikan motif utama sebab geblek merupakan makanan khas pribumi Kulon Progo berbentuk angka 8 yang bisa dimaknai sebagai kesinambungan terus menerus tanpa putus. Di antara motif geblek tersebut, ditorehkan emblem Binangun yang dicerminkan sebagai kuncup bunga yang bakal mekar, mempunyai makna bahwa Kulon progo merupakan wilayah yang sebentar lagi bakal mekar menjadi permata estetis dari pulau jawa. Di sampingnya ada motif buah manggis yang merupakan tumbuhan khas Kulon Progo. Ketiga motif tersebut diciptakan dengan pola naik turun sebagai perlambang bahwa kenampakan alam di Kulon Progo yang paling bervariasi, mulai dari pegunungan, dataran tinggi, sampai dataran rendah dan pantai. Untuk unsur kain bawah, motif binangun tidak banyak dimodifikasi dengan menambahkan dekorasi yang serupa sayap yang menggambarkan bahwa sebentar lagi di Kabupaten Kulon Progo bakal dibangun Bandar Udara yang diharapakan dapat meningkatkan peradaban masyarakat Kulon Progo. Selain tersebut juga terdapat gambar burung kacer yang terbang ke atas, sebagaimana diketahui bahwa burung kacer adalah salah satu hewan identitas Kulon Progo.

Proses Berkarya

Detail Karya

Seniman

I Made Widya Diputra

Konsep Karya

Relief

Material

Acrylic on Resin, Iron, glossy coating

Ukuran

4m x 5,2m

Jumlah

105 Pcs

Tahun

2020